Ticker

6/recent/ticker-posts

Terorisme di Masa Pandemi

Ilustrasi Foto Teroris


Oleh : Al Chaidar
Departemen Antropologi, Universitas Malikussaleh,

Lhokseumawe, Aceh


Merebaknya virus Corona —yang kemudian berubah menjadi penyakit Covid-19— di seluruh dunia telah membuat banyak kantor ditutup dan sebagian besar orang bekerja dari rumah. Namun tidak bagi teroris; mereka justru berkeliaran keluar rumah karena menganggap ini adalah waktu yang mustajabah (momen terbaik) untuk melancarkan teror yang telah lama mereka rencanakan. Ada persepsi bahwa virus corona adalah “tentara Tuhan” yang sengaja diturunkan ke bumi ini untuk memerangi kaum kafir yang selama ini dilindungi oleh para thoghut (musuh Allah) di seluruh dunia.

Bagi kelompok teroris, virus corona  adalah  makhluk Tuhan yang sengaja dikirim untuk menjangkiti dan membunuh orang-orang tertentu yang dianggap sebagai orang zalim, penentang Tuhan dan penindas umat Islam. Persepsi ini dikonstruksi oleh ulama organik yang senantiasa menjadi pengasuh pengajian keagamaan di kalangan mereka.  Tidak semua jaringan teroris mendapatkan konstruksi pemikiran keagamaan seperti ini, hanya kelompok JAD Jawa Tengah saja yang memaknai covid-19 sebagai tentara Tuhan. Oleh karenanya, banyak kelompok teroris lain yang berlainan jaringan tidak melakukan serangan teror di musim covid-19 sekarang ini.

Baca Juga: Mengapa Malaysia Lebih Sukses Memerangi Terorisme

Teroris Karanganyar 

Jejaring teroris yang paling aktif selama ini adalah dari kelompok Jamaah Ansharu Daulah (JAD) wilayah Karanganyar. Sebelumnya, penangkapan paling banyak dari JAD Bekasi, Solo, Tangerang, Surabaya, Sidoarjo dan Madiun. Wilayah ini merupakan wilayah Mujahidin Indonesia Barat (MIB) dalam struktur kelompok teroris yang berafiliasi kepada ISIS (islamic State of Iraq and Syria). Kelompok ini terkait dengan jaringan pelaku bom Thamrin 14 Januari 2016.

Jaringan kelompok ini memiliki ulama organik yang bersifat kekerasan, yang memberikan pertimbangan syariah atas tindakan-tindakan amaliyah (serangan teror) yang akan dilakukan. Ulama organiknya adalah Syamsuddin yang hingga hari ini masih buron. Tidak tertutup kemungkinan jaringan JAD Jawa Tengah menyebarkan interpretasi atas doktrin jihad ini ke wilayah lain di luar Jawa.

Para peneliti menelusuri konstruksi ide bahwa virus corona adalah “tentara Tuhan” yang datang membantu kelompok ISIS di seluruh dunia. Kelompok ISIS pada saat sekarang tengah mengalami kejatuhan secara drastis setelah terbunuhnya Khalifah Al Baghdady yang kemudian digantikan oleh Al Quraishy. Asal mula konstruksi ide ini berasal dari kelompok Ciamis yang dibawa oleh Karyono Widodo alias Sujak.

Baca Juga: Pesan Untuk OPM: Teroris Tak Berhak Menuntut Kemerdekaan

Kelompok Ciamis sudah lama mengkonstruksikan bahwa makhluk Tuhan yang kecil yang akan membunuh thoghut sama seperti yang dialami oleh Fir’aun dan Qarun di masa Nabi Musa alaihissalam. Suyanto (Abu Izzah) sudah mengembangkan ide ini sejak 2015 yang kemudian disambut oleh banyak anggota jaringannya di Karanganyar hingga ke Madiun. Baru pada tahun 2020 inilah ide “tentara Tuhan tak kasat mata” ini dipersepsikan kepada virus Corona.

Terorisme Keluarga 

Dari pengembangan data dan penelusuran terhadap jaringan Kelompok Ciamis yang ada di Karanganyar ini, pihak kepolisian kemudian menangkap Junaidi dan Harmawati yang merupakan pasangan suami-istri beserta anaknya. Kelompok ini juga mulai mengadopsi ide-ide terorisme sekeluarga yang secara teologis dianggap sebagai “perjuangan agama” untuk menegakkan sistem khilafah di Indonesia (Dedy Tabrani, 2017). Bagi mereka, semua anggota keluarga (istri dan anak-anak) diajak serta dalam setiap serangan amaliyah. Ide ini pertama sekali diperkenalkan oleh Ustadz Khalid dan Abu Umar di Surabaya, Jawa Timur.

Baca Juga: 5 Fakta yang Diketahui Sejauh ini Soal Virus Corona

Ide ini juga sempat beredar hingga ke Sidoardjo dan Batang (Jawa Tengah) dimana Subhan dan Zulfikar merencanakan untuk menyerang beberapa kantor polisi di wilayah tersebut dengan menggunakan bom rakitan dan senjata pisau. Untuk operasionalnya, mereka merencanakan melakukan perampokan (fa’i) terhadap beberapa toko dan warung yang dimiliki oleh etnis Tionghoa. Berkelindannya motif teologis dengan motif rasial dan etnis dalam gerakan teror ini (Schwartz, Dunkel, dan Waterman,2009) akan membuat peta jejaring terorisme di Indonesia semakin rumit.

Para ulama organik yang merumuskan ide-ide serangan terlihat belum bisa melepaskan dirinya dari pengaruh-pengaruh prejudis yang non-teologis. Mencampuradukkan penafsiran keagamaan dengan kebencian-kebencian sosial merupakan sesuatu yang baru yang bahkan kemudian diterima oleh pengikutnya sebagai suatu teologi yang berasal dari Tuhan. Sulit bagi kaum rasional untuk bisa memahami bagaimana ide-ide kebencian ini diterima sebagai ajaran agama yang luhur.***

Post a Comment

0 Comments

BREAKING NEWS

Cara Terbaik Mendapatkan Bitcoin Gratis Hingga 0.03 BTC

Bitcoin Gratis ~ Bitcoin adalah sebuah mata uang virtual yang penuh dengan misteri, mulai dari pembuatnya yang belum diketahui sampai de...